"Anggrek: Gadis Desa, Selir, Penguasa"
Tuesday, June 17, 2008 by admin
Penulis : Anchee Min
Penerbit : Hikmah Mizan
Jumlah halaman: xvii + 595
Cetakan : III, Mei 2008
“Hidup kebangsawananku dimulai dengan bau busuk. Bau busuk yang datang dari peti mati ayahku—dia telah dua bulan wafat dan kami masih juga membawa-bawanya, mencoba untuk mencapai Peking, kota kelahirannya, untuk dimakamkan.”……(bab satu, hlm. 1).
Saya merinding membaca bagian awal novel sejarah Empress Orchid ini; yang bercerita tentang perjalanan panjang sebuah rombongan membawa peti mati mantan Gubernur Wuhu yang bernama Hui Chung Yehonala, menuju Peking. Sang mantan Gubernur meninggalkan keluarganya yang terdiri dari: 1 istri, 2 putri, 1 putra dalam kebangkrutan finansial, yang bahkan untuk membayar para penandu peti mati pun belum terbayangkan. Mereka berjalan kaki menempuh jarak bermil-mil, tersaruk, lecet, haus lapar…… Saya membayangkan getirnya perjalanan mereka sambil membawa mayat yang telah mengundang kerubungan lalat… Saya pun teringat dahsyatnya puisi sapardi djoko damono yang berjudul :
“Berjalan di Belakang Jenazah”
berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya…
Salah satu putri sang mantan Gubernur yang menjadi tokoh utama cerita ini adalah Anggrek, yang kelak menjadi Maharani Cina, wanita penguasa kekaisaran Cina abad 18 M. Melalui perjalanan yang berliku, Anggrek berhasil masuk ke dalam lingkaran istana kaisar, dan menjadi selir kesayangan sang Putera Surga Kaisar Hsien Feng dari Dinasti Ch’ing; dan satu-satunya selir yang kelak ‘memberikan’ putera mahkota kepada Sang Kaisar—yang bahkan Permaisuri Nuharoo pun tidak mampu memberikannya.
Teknik penceritaan Anche Lee begitu memikat. Dia piawai mendeskripsikan secara mendetail kehidupan seluruh penghuni Kota Terlarang, sebuah komplek istana kekaisaran Cina. Dia berhasil membuat kita tercengang, betapa kehidupan di Kota Terlarang begitu ‘melampaui batas-batas kewajaran.’, bahkan ‘batas-batas kemanusiaan.’ Kita diajak tamasya dan dibuat terkagum2 dengan detail bangunan Kota Terlarang, kita dibuat geleng2 kepala dengan tradisi para penghuni Kota Terlarang, dsb…dsb…
Yang dahsyat adalah ketika kita disodorkan fakta sejarah bahwa para kaisar Cina memunyai selir yang berjumlah ribuan. Kaisar Hsein Feng sendiri memunyai 1 permaisuri, 6 selir utama (Anggrek termasuk selir utama tingkat ke-4 dengan gelar Putri Kebajikan nan tak Tertanding), dan 3000 selir cadangan (tentu saja tidak semua selir tersebut mendapatkan ‘berkah’ ditiduri Sang Putera Surga). Dahsyat kan?
Para selir kaisar tersebut dijaga oleh ribuan kasim. Kasim adalah laki-laki yang telah dikebiri. Kebayang ga, laki-laki tanpa alat kelamin tapi tetap memunyai nafsu seks setiap saat menjaga para selir yang cantik jelita, dimulai dari bangun tidur, ikut memandikan bahkan menunggui para selir BAB, menemani tidur, dll? Pada akhirnya nanti, ketika para kasim tersebut telah berhasil menjadi kasim senior dan bergelimang harta, algojo yang memotong alat kelamin kasim tersebut akan datang dan menjual alat kelaminnya dengan harga yang gila-gilaan. Dan para kasim tersebut akan membeli alat kelaminnya, karena dalam kepercayaan Cina, sesorang harus mati dengan anggota tubuh yang lengkap. Sehingga pada saat reinkarnasi kelak, mereka akan berreinkarnasi dengan sempurna… Yang lebih mengerikan, para kasim tingkat bawah diberi jatah makan tiga kerat ubi setiap harinya, sementara para selir mendapatkan jatah makan tiga kali sehari dengan 99 macam menu makanan.
Selebihnya, novel ini menceritakan perjalanan Anggrek Sang Puteri Yehonala yang cantik jelita di Kota terlarang. Seorang gadis desa yang mencari kekuasaan lewat rayuan, intrik politik, dan pembunuhan. Ketika Cina terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya dia yang mampu menyatukan negeri tersebut, meski dengan tangan besi. Seorang Maharani yang akhirnya diangkat menjadi ibu suri dengan gelar Tsu Zi (Ibu yang beruntung). Seorang perempuan yang berhasil bertahan dalam kekuasaan selama kurang lebih 40 tahun, dan akhirnya mendominasi….dunia laki-laki.
Post a Comment