Belajar Filsafat Itu Menyenangkan!!
Tuesday, June 17, 2008 by admin
Judul buku : Dunia Sophie
Penulis : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Jumlah halaman : 561
Cetakan : ke-12, Agustus 2002
Filsafat merupakan sebuah kajian yang cukup rumit dan susah untuk dipahami. Referensi mengenai filsafat bisa dikatakan sebuah bacaan yang berat, sehingga agak sukar untuk dimengerti. Untuk itu, tak banyak orang yang menyukai filsafat karena tingkat kesulitannya cukup tinggi.
Tapi hal tersebut akan berbeda ketika kita belajar filsafat melalui sebuah novel yang berjudul Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Dalam novel ini, filsafat jadi begitu mengasyikkan, dan mudah dicerna.
Dunia Sophie bercerita tentang Sophie Amundsen, seorang gadis remaja berumur limabelas tahun yang tinggal di Norwegia pada tahun 1990. Dia tinggal bersama ibunya dan hewan-hewan peliharaannya. Ayahnya adalah seorang kapten kapal tanker minyak, yang menghabiskan sebagian besar waktunya berlayar. Ayahnya tidak muncul dalam buku ini.
Sehari-hari Sophie menjalani kehidupan seperti layaknya gadis biasa, hingga pada suatu saat dia menerima dua pesan misterius di kotak posnya, berupa pertanyaan yang sangat filosofis: Siapakah dirimu? Dari mana asalnya dunia? (saya jadi teringat lagunya Dream Theatre yang sangat filosofis, yang berjudul "The Spirit Carries On")
Dimulai dari pesan tersebutlah, Sophie kemudian terhanyut dalam asyiknya petualangan belajar filsafat. Dalam Petualangan ini Sophie menjadi murid dari seorang filsuf berumur limapuluh tahun, Alberto Knox, yang awalnya menghubungi Sophie tanpa menyebutkan identitasnya. Tetapi sepanjang cerita, perlahan-lahan Alberto Knox mulai memunculkan identitasnya yang sebenarnya. Dari dialah semua surat-surat dan pelajaran filsafat yang dikirimkan kepada Sophie.
Alberto melanjutkan pelajaran filsafat kepada Sophie, mulai dari masa Yunani sebelum Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Hegel, Marx sampai ke filsuf eksistensialis kontemporer Jean Paul Sartre, dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh remaja. Pelajaran filsafat ini kemudian menjadi bagian dari plot itu sendiri.
Bagian filsafatnya sendiri disajikan secara kreatif dan sederhana. Sophie mempelajari filsafat abad pertengahan dengan Alberto yang menyamar sebagai biarawan, di dalam sebuah gereja tua, dan dia juga mempelajari tentang Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir di sebuah kafe bersuasana Perancis. Berbagai pertanyaan dan metode filsafat diberikan kepada Sophie, sementara dia sendiri bekerja mencari filsafatnya sendiri. Banyak pelajaran yang disampaikan Alberto yang dimulai dengan pertanyaan singkat (seperti "Mengapa Lego merupakan mainan yang paling kreatif di dunia?") dan dia diberikan waktu untuk berpikir sebelum pelajaran berikutnya tiba. Setiap paket yang datang menyampaikan satu topik, yang berhubungan dengan catatan kecil yang mendahuluinya.
Bergabung dengan pelajaran filsafat, Gaarder juga memasukkan unsur-unsur yang biasa terdapat pada novel remaja, menggambarkan hubungan antara Sophie dan ibunya, dan juga dengan teman-temannya.
Buku ini juga diwarnai dengan beberapa hal yang tidak mungkin secara teknis (seperti Sophie melihat bayangannya di cermin mengedip dengan kedua matanya, atau bahkan melihat secara langsung Socrates dan Plato). Sebagai sebuah buku yang berdasarkan filsafat, cerita ini diakhiri dengan penjelasan di akhir cerita, saat akhirnya Sophie dan Alberto Knox berhasil melepaskan diri dari Albert Knag.
Kekurangan buku ini terletak pada kurang fairnya Jostein Garder dalam memetakan sejarah filsafat. Sejarah filsafat di dunia Islam tidak disertakan dalam buku ini. Padahal dunia Islam mencatat para filsuf yang sangat mendunia dan bahkan diakui oleh dunia Barat, seperti Ibnu Rusyd, al-Ghazali, al-Farabi, Mulla Shadra, dll.
Post a Comment