" BIdAdAri nOsTalGia dari mAsA lAlu "
Tuesday, July 1, 2008 by admin
Cinta memang bisa mengalahkan segalanya.
Dan aku tengah menikmatinya seorang diri di tengah kota ini. Mencari jejak-jejak yang tertinggal dan tak sempat kualamatkan pada bait-bait puisi. Memetik kembali kenangan yang pernah kulewati bersamanya semasa kuliah dulu. Menabuhi kangen yang lama berdebu ditimbun waktu. Aku rindu.
“ Rasanya aku bukan orang yang tepat untukmu, Non “
Masih teringat detik-detik terahir bersamanya, dia tertegun waktu kukatakan itu.
“ Papamu ingin yang terbaik untukmu. Dia tidak ingin suatu saat kamu kecewa telah menjalin hubungan denganku., seorang lelaki yang masa depannya tidak jelas. Aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa buat hidupmu. Aku ingin kamu mengerti, aku cuma lelaki pecundang “
Lalu bertahun setelah itu, di sebuah kedai sepi tempat kami sering berjumpa, menghabiskan waktu dalam tawa canda, aku melihatnya kembali.
Terpana ketika dia masuk dan melenggang ke pojok ruangan tempatku duduk.
Ah bidadari nostalgia dari masa lalu.
Baru beberapa jam saja kami bertemu kembali, ada perasaana asing yang mulai bermain di dalam hati kami. Namun bagaimanapun aku masih bisa meletakannya pada batas-batas kewajaran. Aku adalah bagian dari masa lalunya begitupun sebaliknya.
Hujan telah reda dan tinggal menyisakan gerimis ketika dia mengajakku menyusuri jalan kota. Kutolak tawarannya. Tidak seharusnya kubiarkan kami berlama-lama mabuk kepayang dalam masa lalu. Kuantar dia memasuki mobilnya. Sebelum menghidupkan mesin dia masih sempat mengingatkan akan selalu memberi kabar untukkku. Aku terenyuh mendengar janjinya. Dengan mulut terasa kaku, kupaksa berkata : “ Terimakasih telah menyisakanku kenangan, Non “
Ingin juga kukatakan bahwa aku akan selalu mengingatnya karena ia telah memiliki ruang tersendiri dalam jiwa dan dan kehidupanku, namun aku tak sanggup untuk mengucapkannya. Dia membisu ketika lancang kukecup keningnya sebelum menutup pintu. Kupandangi mobil itu lenyap di persimpangan jalan dengan segenap rasa haru.
Bulan di atas kota dan selembar potret lusuh di tanganku. Ada pungguk merindukan bulan. Ada seorang lelaki yang yang tenggelam dalam lelangut, ketika tiba-tiba dirinya merasa terasing di rimba beton ini. Bias lampu merkuri dan debu yang ditinggalkan roda-roda kendaraan seolah mentertawakannya.
Esok, bidadari nostalgianya akan berlabuh di pelukan seorang pria.
Masih belum kutemukan jawaban apakah aku akan datang atau tidak ke pestanya. Namun sebelumnya telah kudoakan dengn tulus, semoga hidupnya akan bahagia sampai akhir hayat.
Sambil menikmati angin, kulirik jam di pergelangan tanganku. Hampir tengah malam. Aku harus mencari pelarian dari perasaan tertekan ini. Sudah lewat tengah malam, ketika kutemukan jalan terbaik. Kuambil hand phone di sakuku. Kuhubungi nomor yang sudah tidak asing lagi, istriku yang setia menunggu suaminya pulang. Ingin kukatakan padanya, aku rindu !
***
Dedicated tO HenCeu
Selamat Ulang TAhun bageur, Uncu .....
Semoga diberi usia yang barokah, diberi kemudahan dalam hidup. Amiin
Dan aku tengah menikmatinya seorang diri di tengah kota ini. Mencari jejak-jejak yang tertinggal dan tak sempat kualamatkan pada bait-bait puisi. Memetik kembali kenangan yang pernah kulewati bersamanya semasa kuliah dulu. Menabuhi kangen yang lama berdebu ditimbun waktu. Aku rindu.
“ Rasanya aku bukan orang yang tepat untukmu, Non “
Masih teringat detik-detik terahir bersamanya, dia tertegun waktu kukatakan itu.
“ Papamu ingin yang terbaik untukmu. Dia tidak ingin suatu saat kamu kecewa telah menjalin hubungan denganku., seorang lelaki yang masa depannya tidak jelas. Aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa buat hidupmu. Aku ingin kamu mengerti, aku cuma lelaki pecundang “
Lalu bertahun setelah itu, di sebuah kedai sepi tempat kami sering berjumpa, menghabiskan waktu dalam tawa canda, aku melihatnya kembali.
Terpana ketika dia masuk dan melenggang ke pojok ruangan tempatku duduk.
Ah bidadari nostalgia dari masa lalu.
Baru beberapa jam saja kami bertemu kembali, ada perasaana asing yang mulai bermain di dalam hati kami. Namun bagaimanapun aku masih bisa meletakannya pada batas-batas kewajaran. Aku adalah bagian dari masa lalunya begitupun sebaliknya.
Hujan telah reda dan tinggal menyisakan gerimis ketika dia mengajakku menyusuri jalan kota. Kutolak tawarannya. Tidak seharusnya kubiarkan kami berlama-lama mabuk kepayang dalam masa lalu. Kuantar dia memasuki mobilnya. Sebelum menghidupkan mesin dia masih sempat mengingatkan akan selalu memberi kabar untukkku. Aku terenyuh mendengar janjinya. Dengan mulut terasa kaku, kupaksa berkata : “ Terimakasih telah menyisakanku kenangan, Non “
Ingin juga kukatakan bahwa aku akan selalu mengingatnya karena ia telah memiliki ruang tersendiri dalam jiwa dan dan kehidupanku, namun aku tak sanggup untuk mengucapkannya. Dia membisu ketika lancang kukecup keningnya sebelum menutup pintu. Kupandangi mobil itu lenyap di persimpangan jalan dengan segenap rasa haru.
Bulan di atas kota dan selembar potret lusuh di tanganku. Ada pungguk merindukan bulan. Ada seorang lelaki yang yang tenggelam dalam lelangut, ketika tiba-tiba dirinya merasa terasing di rimba beton ini. Bias lampu merkuri dan debu yang ditinggalkan roda-roda kendaraan seolah mentertawakannya.
Esok, bidadari nostalgianya akan berlabuh di pelukan seorang pria.
Masih belum kutemukan jawaban apakah aku akan datang atau tidak ke pestanya. Namun sebelumnya telah kudoakan dengn tulus, semoga hidupnya akan bahagia sampai akhir hayat.
Sambil menikmati angin, kulirik jam di pergelangan tanganku. Hampir tengah malam. Aku harus mencari pelarian dari perasaan tertekan ini. Sudah lewat tengah malam, ketika kutemukan jalan terbaik. Kuambil hand phone di sakuku. Kuhubungi nomor yang sudah tidak asing lagi, istriku yang setia menunggu suaminya pulang. Ingin kukatakan padanya, aku rindu !
***
Dedicated tO HenCeu
Selamat Ulang TAhun bageur, Uncu .....
Semoga diberi usia yang barokah, diberi kemudahan dalam hidup. Amiin
Post a Comment