Lelaki Seribu Pulau

Lelaki itu mengepalkan tangannya kuat kuat, seakan ingin menghantam benda apa saja yang berada di hadapannya. Giginya gemerutuk menahan amarah. Hatinya menangis kecewa.


Dihadapannya duduk seorang perempuan muda cantik. Wajahnya tepekur menunduk,
bersimbah airmata.Dibiarkannya air mata itu mengalir.

Hampir saja lupa bahwa selang beberapa jam sebelumnya ikrar sehidup semati sudah dipahatkan . Bersama mengarungi mahligai rumah tangga dalam suka dan duka dalam papa dan kaya

Aroma melati dan sedap malam yang memenuhi kamar pengantin nan indah, sudah tidak dihiraukannya lagi. Semuanya seolah sirna berganti aroma busuk yang menyesakan dada.
Dipalingkan mukanya yang keruh dari gemerusut sprei putih pengantin bertabur untaian melati .

“Aku tidak menemukan hentakan garang yang melambungkan segenap denyut nadiku..Tiada tirai manis yang harus kubuka dengan manja.Hanya ruang hampa dan .Aku tak bisa bersenyawa dengan perempuan terkasihku” , batinnya.


Dengan tatapan kosong lelaki itu memandang wajah perempuan dihadapannya..
Belahan hati, perempuan terpilih yang dicintainya. Telah diputuskan hatinya akan ditambatkan untuk perempuan itu lalu ia akan menjadi nakhoda perahu yang akan dilabuhkan kemudian akan menjelajahi kehidupan sampai maut memisahkan. Ia berjanji akan membuat surga kecil di rumahnya, yang kelak dipenuhi oleh tawa canda anak anak yang kelak akan dilahirkan wanita itu. Alangkah indahnya.

” Inilah pelabuhan terahirku, beberapa dermaga pernah kusinggahi.
Aku pernah mencicipi baunya kesturi dari beberapa putri….tapi perempuanku…duhai perempuan terahirku, engkaulah yang paling suci “

Bait puisi itu berputar mengelilingi setiap tarikan nafasnya , menohoknya dari belakang, kanan, kiri, depan. Lalu mencibirnya, kemudian menyumpahinya dengan kata kata penuh penghinaan.

“Sungguh nista,…engkau berharap kesucian darinya…sementara engkau lumuri hidupmu dengan dosa, diantara desah nafas wanita penjaja cinta dan wanita yang engkau sebut kekasih “

”Dan perempuan yang sekarang sudah menjadi istriku, perempuan terahirku, cukup adilkah bila dia harus menerima akibat lantaran kesombonganku sebagai lelaki, kemunafikan ku, kepura puraanku. Apakah aku harus mengutuk dia, mencampakkan dia,
hanya karena dia tidak memberikan “kesucian” seperti pada bait-bait puisi “, batinnya berperang.

Bagai baru tersadar dari mimpi panjang, diraih kedua tangan halus perempuan itu lalu diciuminya berulang ulang, dengan segenap cinta.

”Perempuanku, belahan jiwaku, aku akan menemukan surga di hatimu.
Tidak akan kucari lagi noda merah dadu di sprei putih pengantin kita.
Biarlah dia pergi tanpa jejak. Seperti jejakku yang tak berbekas di seribu pulau yang pernah aku singgahi…
Bookmark and Share

0 comments:

Post a Comment