" Taman Simpang Lima Dalam Kenangan "

Menyusuri jalan yang diselimuti kabut tipis itu, ia seperti memasuki lorong-lorong masa silam yang sunyi dan mencekam. Desir angin menggugurkan dedaunan tua di ranting pohon. Menari gemulai di udara sebelum tersungkur ke bumi. Menatapnya, ia seolah mendengar hymne kematian sayup-sayup sampai.

Minggu pagi yang dingin. Seorang wanita berwajah teduh, di sebuah taman simpang lima, ia putuskan mengaso setelah lelah berjalan pagi. Duduk di bangku taman.Seorang lelaki yang telah lama hilang ditelan waktu, tiba-tiba menjelma di pelupuk matanya. Di taman itu hampir delapan belas tahun yang lalu, ia pernah menitipkan kenangan. Kini ia datang lagi, tapi dengan penuh kesadaran tak mungkin menggenggamnya kembali. Ia hanya ingin bernostalgia, seperti membuka album foto usang yang teronggok berdebu dalam gudang.

Kota kenangan itu bernama Garut. Ia putuskan kembali ke sana, tempat ia melewati separuh usianya. Ia kangen pada anak keduanya, putri satu-satunya yang tinggal di kota kecil itu. Di sana ia hidup bahagia bersama suaminya. Dua bulan lagi dia akan melahirkan anak keduanya, minta ditemani saat persalinannya nanti.Namun dibalik semua alasan itu, sesungguhnya ia masih menyimpan satu rahasia. Selama ini tak ada yang bisa mengorek isi hatinya dan menemukan sesuatu yang tersembunyi di sana. Hanya ia sendiri yang tahu, bahwa sudah belasan tahun ia pelihara kerinduan yang mendalam pada kota INTAN.

Tanggal dua belas Nopember, ia singgah lagi ke tempat itu. Sebuah taman tanpa bunga, nyaris dipenuhi belukar. Jam setengah enam, taman lenggang. Ia tertatih menuju bangku panjang tempat ia mengaso. Tiba-tiba batinnya berdesir mendapati punggung seorang laki-laki bersweter biru tua sedang duduk mencakung di sana. Seketika sosok itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu.

“ Jin.... “
“ Zoe....”
pasang manusia itu nampak salah tingkah , meredakan gelombang gelisah.
Sunyi terasa ngilu bercampur haru, juga rindu. Kenangan itu kembali menjerat mereka.
“ Tak kusangka kita bisa bertemu lagi, berapa tahun Jin? Delapan belas tahun? Mungkin lebih !”. Jini sedang terpukau menatap seekor kupu-kupu semadi di pucuk ilalang. Zoe pun seolah tak membutuhkan jawaban. Fikirannya kembali ke masa silam.

“ Lantas apa yang menuntunmu kembali ke taman ini ? “
“ Tiap orang punya kenangan, itulah yang menuntunku kemari “
Jini menghela nafas sebelum menyambung kalimatnya. “ Selamat ulang tahun Zoe..” Ya hari itu usia Zoe tepat enam puluh tahun.

Waktu adalah hakim yang paling adil. Belasa tahun berlalu. Sekian kisah telah dituai. Pagi itu, perjalanan hidup mempertemukan mereka kembali dalam suasana jauh berbeda.

“ Sudah berapa cucumu, Jin ? “
“ Delapan. Kau? “
“ Sedang menunggu cucu keenam. “ Lalu keduanya terkekeh. Hidup ini lucu, mungkin fikir mereka.

Pertemuan dan perpisahan nyatanya sama-sama nikmat setelah mengambil jarak dan menempuh jalan yang berbeda. Enam hari kemudian mereka bertemu kembali di tempat yang sama.

“Masih ingat ini, Jin?” Zoe mengulurkan sebuah buku bersampul hitam bertuliskan “ Three Colours “di genggamannya. Jini terkesima menyambutnya. Ia tak menyangka Zoe masih menyimpan buku sisa kenangan itu. Disibakkannya lembar demi lembar buku itu tanpa sepatah kata pun. Tanda tangan mereka masih jelas tertera di buku itu. Ada aroma masa lalu menyengat. Tangannya gemetar. Ia nyaris tidak percaya sedang membaca tulisan tangannya sendiri yang ia buat hampir dua puluh tahun yang lalu. Semua isi hatinya dan perjalanan hidupnya hampir semua tertera di sana. Ia pernah berandai-andai, buku itu ibarat cincin yang yang dirangkai dari kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana.

Jini mengatupkan pelupuk matanya, dan menutup buku itu bersamaan. Ia tak sanggup lebih lama lagi membaca isinya.

“ Masih adakah yang kau cari dalam hidupmu, Jini ?”
“ Di sisa hidupku, aku hanya ingin dekat dengan Tuhan. Belum sempurna ibadahku. Semoga saja aku diberi jalan ke sana”

Lama mereka membisu, terseret arus perasaan masing-masing. Mereka seperti peziarah yang yang singgah di sebuah nisan tanpa nama, merangkai sisa kenangan, berkaca pada lampau dan hari-hari kini, untuk kemudian pergi lagi.

Begitulah. Setelah saling berpamitan, keduanya beranjak pergi menuju arah mata angin yang berbeda. Jini ke utara dan Zoe menuju ke selatan.. Sekitar tiga puluh meter meninggalkan taman simpang lima, seolah ada ada kekuatan yang entah dari mana, yang memaksa mereka menengok ke belakang.

Dua manusia lanjut usia itupun bertatapan. Gamang. Tak ada senyuman. Tak ada lambaian tangan. Hanya sunyi dan haru yang membentangkan jarak menyakitkan. Mereka sama-sama menyadari, ada yang tak sempat terurai, ada yang tak sempat terangkai, namun terasa indah. Bunga soka merah gugur satu satu. Jatuh menerpa bumi. Mereka kembali melanjutkan langkah. Jalan pulang terasa jauh.

****

Sebuah tulisan tentang sebuah kenangan.
Bila saat itu masih ada dan aku masih bisa menggenggamnya.

Dedicated to :
Jini : ” Mungin sudah punya mantu atau, bahkan cucu, Jin “
Mhimi : “ Anakmu sudah berapa ya, Mhi ? “
Mas Koes dan Ratu : “ Perlu honey moon kedua ke Kampung
Sampireun “

Harry : “ Apakah ketawamu masih renyah seperti krupuk udang Sekalipun sudah punya anak perawan dan bujang?
Bookmark and Share

2 comments:

    wah..keren banget nih..mau aku simpen yah?? boleh kan?

     

    halo...makasi da mampir yah..salam kenal..

     

Post a Comment